Selasa, 22 Agustus 2023
Shiddarta, Bangsawan Yang Meninggalkan Kemewahan
Shiddarta, Bangsawan Yang Memilih Turun Lapangan
Kau tahu Sang Buddha? Ya, Namanya Shiddarta Gautama. Seorang bangsawan yang dilahirkan di Kapilawastu. Putra dari Raja Sudadana. Seorang yang telah diberikan kemewahan dan kecukupan dari awal kehidupannya, namun memiliki keingintahuan yang tinggi dan perasaan empati akan dunia luar yang tak seberuntung dirinya. Seorang Bangsawan yang tidak memilih manja dan meninggalkan seluruh kemewahannya.
Ibunya, Ratu Mahadewi, meninggal kala melahirkannya. Menjadikannya hanya memiliki seorang ayah. Kendati demikian, tentu saja hidup Shiddarta tidak memiliki cacat cela, karena ia dalah seorang pangeran di Negeri Kapilawastu. Dengan hidup yang selalu terkurung di istana, ia hanya melihat orang-orang cantik, segar bugar, dan masih muda untuk menikmati dunia. Hingga suatu Ketika, ia melihat orang yang sudah tua. Ia bertanya-tanya, Kenapa orang itu tua?
Shiddarta Gautama yang tak pernah melihat fenomena semacam itupun menjadikan ia galau dan memikirkannya berlarut-larut. Keingin-tahuannya semakin besar, kala ia melihat orang yang sakit. Kenapa orang itu sakit? Perasaan untuk keluar dari istana dan mencari tahu tentang hal-hal di luar istana semakin kuat tatkala ia melihat orang yang mati. Kenapa orang itu mati?
Ayahnya, Sang Raja, tak ingin putranya memandang hal-hal remeh seperti itu. Ia ingin putranya menikmati kemewahan yang diberikan padanya, hidup di dalam istana dengan serba serbi nya. Namun keinginan Shiddarta benar-benar kuat untuk mencari tahu tentang hal-hal di luar istana. Itupun semakin diperkuat tatkala Shiddarta melihat seorang petapa yang kurus, tua, namun wajahnya bersinar dan tersenyum cerah. Mengapa bisa begitu, padahal ia sudah tua? Tentu saja hal itu membuat Shiddarta semakin ingin melakukan pencarian terhadap hal-hal itu, terutama pencarian tentang kedamaian dan kebahagiaan.
Pada kisaran umur antara 14 hingga 16 tahun, Shiddarta dinikahkan dengan Yasodara yang saat itu tengah berumur antara 8 hingga 12 tahun. Tujuan Sang Raja menikahkan Shidarta dengan Yasodara ialah agar Shidarta tak terobsesi untuk menjalani hidup di luar istana, karena ia sudah memiliki istri. Kemudian lahirlah anak mereka yang diberi nama Rahula.
Sang Raja terus membujuk Shidarta untuk tetap tinggal di istana, apalagi ia sudah memiliki istri dan anak. Namun semangat Shidarta tak pernah pudar. Yasodara, mendukung niat Shidarta tersebut untuk melakukan pencarian tentang Kedamaian dan Kebahagiaan. Dan pada akhirnya di suatu malam, Shiddarta keluar dari istana bersama kuda kesayangannya, Kandaka.
Putra Shidarta, Rahula, berarti penghalang, pengontrol. Karena ia bisa menjadi paku Shidarta untuk tetap di istana dan tidak menjalani hidup di luar istana. Dalam konteks kehidupan saat ini, siapapun bisa menjadi Rahula, alias penghalang dan pengontrol kita.
Dalam menjalani kehidupannya di luar istana untuk mencari kedamaian dan kebahagiaan sejati, Shiddarta memulainya dengan Ekstrimis. Yakni ritual petapa untuk mencapai pencerahan dengan menyiksa diri sendiri. Shiddarta berpuasa selama 4 tahun, hingga tubuhnya menjadi kurus kering. Namun, ia tak mendapat kedamaian dan kebahagiaan.
Akhirnya ia Kembali menjalani hidup dengan normal. Dan ia melakukannya selama dua tahun. Tetap saja, ia tak menemukan kedamaian dan kebahagiaan di dalamnya. Dan hingga akhirnya, ia menemukan jalan yang diberi nama Middle Way.
Apa dan bagaimana Middle Way itu? Hal itu akan dibahas pada pertemuan selanjutnya.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Shiddarta, Bangsawan Yang Meninggalkan Kemewahan
Shiddarta, Bangsawan Yang Memilih Turun Lapangan Kau tahu Sang Buddha? Ya, Namanya Shiddarta Gautama. Seorang bangsawan yang dilahirkan d...
-
Shiddarta, Bangsawan Yang Memilih Turun Lapangan Kau tahu Sang Buddha? Ya, Namanya Shiddarta Gautama. Seorang bangsawan yang dilahirkan d...
-
Terkecuali sejarah yang memang seharusnya dipaparkan sebagiamana adanya, namun Adapun sejarah juga tidak dipaparkan sebagaimana fakta ...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar